Artikel Menarik
Loading...
Monday, October 17, 2016

Apa maksud dari judul diatas, apakah salah ketika kita menjadi mapan, dan apakah itu menyebabkan orang tua kita renta. Tulisan ini aku tulis sebagai pengingat untuk diriku sendiri dan semoga dapat bermanfaat untuk orang lain. 
       
        Ini merupakan cerita yang aku alami sendiri, hari Senin 17 Oktober 2016 sore hari menjelang sholat maghrib aku dikabari oleh kakaku bahwa Bapakku kondisi sakit dan sedang dirawat di RS. Sontak kabar ini membuatku kaget, dan sedih. Yang menjadikan kesedihanku bertambah adalah kondisiku saat ini sedang menjalani pendidikan dan tidak dengan mudah keluar begitu saja untuk pulang ke rumah mengurusi orang tuaku. 

     
Seketika aku menelfon ibuku dan menanyakan bagaimana kabar bapak saat ini, dan dengan bahasa seperti biasa ibu menjawab bapak baik le, dan tentu saja aku tahu ibu itu paling pandai menutupi. Buktinya dari sabtu bapakku sakit, namun sampai di RS akupun tidak di beritahu. Alasan klasik yang selalu ibu sampaikan, kami tidak mau kamu terganggu dengan memikirkan kondisi kami, makanya tidak mengabari. Atau alasan lain yang sering dilontarkan ketika ibu tidak menghubungiku karena tidak berani apabila aku sedang ada kerjaan kantor. aku bertanya, "wau bapak ngangge BPJS? (tadi bapak pakai BPJS?) ". iyo nganggo kok, jawab ibuku. aku tanya ternyata bapak dirawat Di RS Tegalyoso Klaten di Ruang kelas 1. Aku sampaikan ke ibu, bahwa bapak biar dirawat naik kelas menjadi VIP, namun kembali jawab ibuku tidak usah, bapak disini juga sudah cukup bisa beristirahat. Perasaanku semakin tidak menentu, ada rasa bersalah aku tidak dapat pulang saat ini. Bahkan ketika aku hendak menyampaikan ke ibu soal uang apakah perlu aku transfer untuk keperluan perawatan bapak, hati ini semakin gusar dan sedih. Bapakku pastilah mengharap sekali kedatanganku dan bukan fasilitas kelas VIP yang dapat aku berikan, atau juga uang yang aku transferkan untuknya, karena pasti bukan itu yang lebih berharga bagi bapak saat ini, tetapi kehadiran seorang anak disampingnya. Ketika sakit dan tidak ada anak disampingnya, aku dapat membayangkan bagaimana aku kelak ketika sakit dan anak-anakku sudah tidak dekat denganku lagi.

        Ketika kita sibuk untuk mengejar jabatan dalam pekerjaan, mengejar kemampanan karier kita semakin disibukkan dengan urusan pekerjaan. Semakin hari semakin meningkat kemampuan kita di dalam pekerjaan, tentu semakin bertambah pula penghasilan kita seiringnya waktu. Ketika kemapanan kita kejar demi membahagiakan keluarga kita, disatu sisi orang tua kita umurnya semakin bertambah dan kemampuan tubuhnya tentu bukan semakin bertambah namun semakin menurun. Ketika kecil orang tua yang selalu merawat kita, baik saat sehat ataupun ketika kita sakit mereka merelakan apa saja demi kesehatan kita, merawat dengan penuh kasih sayang dicurahkan segala waktunya hartanya apa yang dia miliki untuk membesarkan kita. Namun terkadang ketika bertujuan untuk mengejar cita-cita yang tujuannya memang baik untuk orang tua menjadi bangga. Disatu sisi terkadang lupa kalau orang tua kita semakin renta. Ketika sampai pada puncak kesuksesan kita tunjukkan kepada orang tua pencapiaan kita, tentu orang tua akan bangga. Namun kapan puncak kesuksesan tersebut, terkadang kita belum merasa pada puncak dan terus mengejar, sampai-sampai lupa untuk sekedar mengunjungi orang tua atau setidak-tidaknya menghubungi orang tua setiap hari.

          Ingatlah kawan, bahwa apa yang engkau kejar apa yang engkau miliki tidak akan berarti apa-apa bagi orang tua kita ketika sedang sakit, hanya perjumpaan dan doa yang senantiasa diharapkan. Setidak-tidaknya hubungi orangtua kita setiap hari dan doakan setiap hari, karena ketika kita semakin mapan, disana orang tua kita semakin renta.

Bukan uang dan jabatan yang dapat membuat orang tua bangga, namun perhatian anaklah yang dapat menjadikan kebanggaan orangtuanya melihat anaknya yang bisa perhatian, karena perhatian kita kepada orangtua merupakan keberhasilan terbesar orangtua dalam mendidik anak-anaknya.
Next
This is the most recent post.
Older Post

3 komentar:

Anonymous said...

Dan aku pernah mengalami hal yg lebih buruk..saat ibuku sakit,aku tidak bisa sekedar menengok..pun sanpai ibu dipanggil Tuhan,ak terlambat datang..aku baru bisa datang 14,5 jam setelah ibu menghembuskan nafas terakhir..dan sampai sekarang tinggal penyesalan yg tersisa mendera...

Puguh

Anonymous said...

Smoga lekas sembuh ya ayahanda Pakcilek
Puguh mana rotimu ,,

Bayu

Anonymous said...

Bagus sekali tulisannya mas, sangat menginspirasi saya, bahwa uang dan jabatan bukan segalanya, semoga ayahanda pak cilek, lekas sembuh. Amin
R.NASUTION