Artikel Menarik
Loading...
Wednesday, August 17, 2016

Info Post
Selesai mengikuti upacara bendera memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73 di Badan Diklat Kejaksaan Republik Indonesia. Tahun ini dirayakan di sini dengan kondisi sedang Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa angkatan LXXIII tahun 2016. Dipimpin oleh Inspektur Upacara Bapak Kepala Badan Diklat Kejaksaan RI Muh. Salim, dengan menyampaikan pidato Bapak Jaksa Agung HM Prasetyo yang pada intinya masih seputaran kinerja Kejaksaan yang perlu ditingkatkan sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah kerja, kerja, kerja.
Yang menjadi perhatianku adalah peserta upacara kali ini mereka tidak ada satupun yang pingsan atau pura-pura pingsan. Berarti menunjukkan mentalnya sedang bagus kali ini. Kenapa aku katakan demikian, karena pada dasarnya sakit itu tidak hanya disebabkan karena keletihan fisik belaka, namun mental yang lemah menjadikan semangat untuk mengikuti suatu kegiatan menjadi berkurang. Akhirnya dengan alasan sakit, ataupun sekedar duduk-duduk tidak karuan. Padahal justru ketika sesuatu dikerjakan dengan serius akan menjadikan manfaat yang baik bagi tubuh begitu pula sebaliknya.
Berbicara mengenai Kemerdekaan, tentu setiap tahun pada bulan Agustus kata “kemerdekaan” akan sering diperdengarkan dan diperbincangkan di semua kalangan. Tak sedikit yang aura nasionalismenya meningkat tetapi ada pula yang masih mempertanyakan kemerdekaan itu apa, dan yang lebih banyak pula mereka yang tanpa membedakan hari ini hari apa, dan berjalan berlalu saja seperti sebagaimana hari-hari biasanya. Ya wajar jika kemerdekaan itu berbeda makna bagi setiap orang, kita yang merasakan arti kemerdekaan dari sudut pandang kita masing-masing akan mengartikan kemerdekaan secara berbeda pula.
Sebagian orang yang mapan, dengan pendapatan yang stabil, akses terhadap kesehatan mudah, dan bahkan akses terhadap hiburan yang terlampau mudah sampai hampir-hampir saja over hiburan. Kemerdekaan diartikan bagi kemerdekaan yang nyata, tetapi bagi mereka yang masih harus berjuang hanya demi bisa terisi sesuap nasi di mulutnya arti kemerdekaan sebagai suatu keniscayaan. Berbeda pula dengan mereka yang mengetahui Indonesia itu sesungguhnya sudah merdeka namun justru berbuat yang salah, akibatnya banyak yang terjajah lagi, lihat disana pimpinan-pimpinan Negara, mereka sudah tau kalau Indonesia itu merdeka, tetapi mereka mengisi dengan korupsi, dengan berbuat licik yang pada akhirnya menyebabkan banyak rakyat yang menjadi terjajah secara financial di negeri yang sesungguhnya merdeka ini.
Kita disini sebagai generasi muda tentu malu apabila sekarang kita dapat mengkritik para pimpinan-pimpinan disana, tapi kita justru tidak berbuat apa-apa. Tidak melulu dengan perbuatan yang besar, cukup dimulai dengan yang kecil terlebih dahulu. Semisal apa yang saya tuliskan diatas tadi mengenai mental yang kuat akan menjadikan fisik kita kuat pula. Sebagai generasi yang masih kuat, menunjukkan mental yang kuat itu sudah cukup menjadi modal di dalam pembangunan, apabila dapat dilakukan secara konsisten. Mental tersebut akan membentuk pada sikap disiplin dan integritas yang pada akhirnya nanti dapat dijadikan modal mengisi kemerdekaan di tahun-tahun mendatang.

 Inilah dari saya, memaknai kemerdekaan ini cukuplah dengan menunjukkan sikap mental yang kuat dimulai dari diri sendiri dan dari hal yang kecil semisal upacara dengan keseriusan. Barulah nantinya dari sikap kecil tersebut kita berbuat yang lebih besar bagi bangsa ini.

0 komentar: