Artikel Menarik
Loading...
Wednesday, March 23, 2016


        Sabtu malam minggu tanggal 24 maret 2012 kemarin aku sempat main dengan kawan saya (sebut saja ia Anton) ke Solo. Berbekal pengetahuan yang minim tentang jalanan di Solo kami coba berkeliling dimalam hari, (meskipun dekat dengan Solo) saya tidak pernah benar-benar hafal dengan jalan Solo yang begitu banyak cabangnya. Kota Solo itu ya Surakarta, Solo lebih terkenal dengan nama kota yang sekarang, kalau daerah aslinya ya Surakarta, seperti Jogjakarta yang lebih populer dengan sebutan kota jogja. Solo dan Jogja sudah kita ketahui merupakan daerah yang masih kaya akan kebudayaan Jawa, yang melekat disetiap kehidupan masyarakatnya. Salah satu kebiasaan masyarakat disana yaitu "Wedangan" minum minuman panas semisal kopi panas, teh panas, wedang uwuh (minuman sampah) jahe gepuk (jahe geprak) atau juga kopi jos yang terkenal. Selain minuman juga biasa deselingi dengan gorengan dan sudah tentu lengkap dengan nasi kucingnya. Salah satu yang menarik dari kebiasaan warga ini ialah tempat ini merupakan tempat bersosialisasi yang baik menurut saya. Semua orang baik dari golongan atas maupun golongan bawah, baik itu jawa, sampai dengan orang cina biasa   "jagongan" bercakap-cakap disini.
       Malam itu juga tidak berbeda dengan kami, dengan menempuh perjalanan jauh dari Semarang melewati Purwodadi (pada cerita saya sebelumnya dengan judul 12 Kabupaten Dalam Sehari Dua Malam) badan dingin cocok kalau menikmati segelas jahe hangat. Tetapi malam itu jahe kebetulan habis, karena suasana memang lumayan ramai. Susu putih hangat menjadi opsi kami untuk menghangatkan badan. Gorengan dilibas pertama kali ditangan kanan dan cabe rawit hijau ditangan kiri. Dengan tempat duduk lesehan dan juga kursi panjang (kursi Jacky Chan dalam film The Drunken Master) kami menghabiskan suasana malam yang ramah di kota Solo. 
        Tidak selang beberapa lama setelah kami ngobrol, datang bapak-bapak dengan perawakan sedang, dengan kumis tidak begitu tebal menghampiri dan mengajak kenalan kami. Bagi kalian mungkin ini sedikit aneh, tapi bagi warga Solo ini hal biasa untuk mengajak kenalan orang yang baru ketemu, untuk diajak ngobrol ngalor ngidul (bercakap kesana kemari) membicarakan semua hal yang ada diotak. Pertama bapak ini menanyakan dari mana kami dan sedang apa dan juga mau kemana. Setelah itu ya ngobrol kesana kemari. Awalnya tidak begitu bisa dipercaya bapak ini dengan cerita-ceritanya yang terkesan membual, bak si cebol melamun disiang bolong hendak memetik kelapa. Makin jauh perbincangan kami, bapak ini mulai menyuruh saya membuka opera mini dari hape saya. "saya tidak usah cerita banyak mas tentang diri saya, mas buka saja situs dari google tentang "pawang geni", kata bapak itu sambil agak mendekat ketempat duduk saya. Sebagai orang yang sudah tahu dengan adat kucingan atau wedangan disolo saya tidak begitu masalah dengan hal tersebut. Setelah beberapa lama agak bermasalah dengan koneksi di hape saya, lantas bapak itu mengeluarkan hp-nya sendiri dibukalah google untuk menunjukkan pawang geni kepada kami. Benar setelah kami baca memang bapak ini seorang inventor dari alat pemadam kebakaran sederhana yang bisa menjangkau daerah padat penduduk yang diberi nama "pawang geni".
        Setelah semakin tertarik dengan cerita bapak ini, saya lanjut dengan bertanya-tanya. Sudah 10 tahun kuliah di Belanda jurusan art. Setelah lulus dari institut kesenian jakarta (IKJ) melanjutkan kuliah di Belanda.  Dan Setelah selesai dengan studinya beliau menetap di Solo sebagai Inventor dan juga seniman. Banyak hasil karya seni beliau yang diceritakannya kepada kami. Ditengah-tengah obrolan kami terceletuk pertanyaan tentang transportasi, saya bertanya bagaimana selama di Belanda, apa sering menggunakan Sepeda Onthel, karena waktu itu yang saya pikir kalau sepeda onthel memang awalnya digunakan oleh menir Belanda. Setelah menjelaskan mengenai Transportasi di Belanda saya sedikit terbuka pemikiran tentang hakikat transportasi itu sendiri.
         Pertanyaan yang terlintas, kenapa Indonesia Macet? Bukankah jalanan di Indonesia sudah lebar-lebar dan panjang-panjang. kenapa masih banyak orang yang lebih suka menggunakan transportasi pribadi semisal motor dan mobil untuk bepergian. Ya itu pertanyaan yang gampang untuk dijawab, di Indonesia orang belum mengetahui arti sebenarnya Transportasi itu sendiri. Di Indonesia pembangunan moda trasnportasi umum tidak berjalan dengan cepat dan baik, ditambah lagi pertumbuhan ekonomi yang belum merata menyebabkan arus urbanisasi yang tidak terkendali. kota-kota besar disesaki dengan transportasi pribadi.
         Itu ulasan pada umumnya, namun permasalahan yang paling utama adalah hakikat transportasi di Indonesia yang  mengalami pergeseran makna. Alat transportasi tidak hanya berperan untuk memindahkan sesuatu atau orang dari tempat satu ke tempat yang lain, namun lebih pada gaya hidup dan gengsi. memiliki mobil pribadi dianggap sebagai lambang kesuksesan, yang pada akhirnya setiap rumah ada yang memiliki 4 mobil dengan jumlah anggota keluarga hanya 3. Sedangkan di Belanda, meskipun kaya namun justru lebih memilih menggunakan transportasi umum. Ada satu pendapat bagi orang Belanda kenapa saya punya uang tapi harus mengurus mobil, harus menyetir sendiri, toh saya bisa bayar transportasi umum. Maka pertumbuhan transportasi umum semakin maju dengan dibarengi sifat merawat yang dimiliki orang Belanda. Mereka sama-sama merawat fasilitas umum dengan baik karena berfikir fasilitas umum adalah milik mereka bersama.

Lantas bagaimana dengan kita?


0 komentar: