Artikel Menarik
Loading...
Friday, May 24, 2013

          Sebelum membaca tulisan ini, saya sarankan sebaiknya membaca terlebih dahulu
Edisi Magelang dan Jogja bagian ke-1

          Disela-sela agenda mengerjakan tesis untuk menyelesaikan program Magisterku aku teringat dulu aku masih punya hutang untuk melanjutkan tulisanku tentang Magelang dan Jogja. Takut nanti aku ditanya saat di akherat terkait hutangku yang ini, aku coba kembali untuk menuliskan kelanjutan dari cerita gak mutu ini.
                Saat kami sedang asik menyantap nasi bekal yang dibawa Anton, ada bapak-bapak separuh baya datang dengan baju merah mengenakan topi hangat. Dari wajahnya bapak ini terlihat sedang bingung. Mendekat dan bapak ini mulai bercerita kalau tadi pagi melewati sungai untuk membasuh mukanya, namun sayang bapak ini malah terpeleset dan kecebur di sungai Prambanan. "Basah kuyup saya mas, dan saya ini mau pulang ke Purworejo, belum sarapan juga" ujar bapak berbaju merah itu. Dari kami lantas inisiatif untuk memberikan sebagian bekal nasi kami untuk bapak ini. ya meskipun kami hanya mempunyai bekal sedikit, tapi tidak apalah, kami sudah biasa dengan bekal seadanya tetapi masih hidup juga kok.
             
             Saat dipersimpangan lingkar utara dengan jalan utama mengarah ke kota, kami berhenti sejenak untuk menentukan jalan mana yang akan dilalui. Keputusan mengambil ring road utara lebih tepat karena lalu lintas tidak seramai kalau masuk lewat kota. Sambil saling hina kami terus melaju dengan semangat, karena perut sudah terisi. Baru sampai separuh jalan lingkar sudah datang hujan segerombolan, tanpa bilang-bilang sebelumnya atau sms dulu, hujan datang dengan kawan-kawannya. Yah terpaksa kami berhenti dulu di emperan rumah orang. kebetulan ada amben kami gunakan untuk duduk dan rabahan sejenak. Tempat kami berteduh adalah daerah pengrajin furniture seni dari kayu dan batu. Banyak berjajar di sepanjang jalan hasil karya yang dipajang guna menarik minat pembeli. setengah jam berlalu, hujan mulai reda dan suasana agak sedikit dingin. Ayo cah mlaku maneh nanti kelamaan istirahat malah gak sampai jogja. Baru berjalan beberapa menit, mata mamed menyambar ada pohon jambu di seberang jalan. Dengan sigap sepeda berhenti, begitu juga yang lain. Tanpa dikomando, pohon jambu klutuk yang semula masih perawan dari sepagian ini terpaksa kami renggut buahnya. sambil guyon melihat tanda di pagar Pemulung dan Pengamen dilarang masuk, oh santai, kita kan gak mengamen atau memulung ya bro, wong kita hanya mengambil jambu. Bedakan antara Memulung, mengamen dan Mengambil, hahaha.
                  Sejenak menikmati jambu sambil melihat hal yang unik dipasang ditepi jalan, pemandangan gambar ini yang mengusik kami sehingga kami dengan khusuk terarah untuk memandanginya. Tak Ada Kawan yang tak Bercela kata-kata ini yang membuat kami mendapatkan arti tentang berkawan dan kesolid-an persahabatan kami. Meskipun saya, dan personil lainnya memang memiliki sifat yang berbeda dengan ketololan masing-masing, tapi memang itulah sejatinya persahabatan. karena pasti tak ada kawan yang tak bercela. setelah selesai dengan jambu kami, perjalanan dilanjut lagi menuju barat (Journe to the West).
              Banyak banyolan yang terus keluar dari mulut-mulut kami, mulai dari ejekan satu sama lain, sampai membahas guru-guru kami di sekolah yang kocak dan aneh-aneh. Tetapi itu tidak saya jabarkan disini (Sensor).
              Mata tertuju pada objek foto, yup kami sampai di Monumen Jogja Kembali (Monjali). Karena tujuan kami bukan ke Jogja Kembali, kami sengaja tidak masuk area monumen dan musium ini. Kami sudah pernah kesini kok, waktu kami kecil. Kebiasaan anak TK di wilayah Klaten dan Sekitarnya adalah kalau musim liburan dan melakukan wisata, pasti tujuan utama adalah musium ini. Kami masih ingat betul  kalau siswa TK di Klaten itu ya piknik itu lihat pesawat tempur di Jogja Kembali. Sudah banyak berubah semenjak saya TK sampai sekarang, dengan dana dari pemerintah monumen ini sekarang semakin terawat dan ditambah dengan area bermain anak yang biasa juga dipakai untuk hiburan malam seperti pasar malam.
                
setelah lanjut menggenjot lagi, kami sampai di Pusat kota juga, melewati Tugu dan lurus langsung ke tujuan pertama yaitu Malioboro. Kami memang berencana untuk pemberhentian siang ini adalah malioboro, disamping melihat-lihat disana kami juga sholat dhuhur dulu di Masjid Malioboro.

Memarkir sepeda kami di tempat parkir Gubernur Jogja dan meletakkan sepatu di rak masjid, kami mulai nglosor dilantai yang sedikit terasa dingin. Pijit-pijitan dan meluruskan kaki-kaki yang sedikit terasa mengencang. 
       Belanja-belanja di pasar malioboro sudah selesai, foto-foto juga tidak terlupakan, dilanjut perjalan ke kraton dulu sebelum sore nanti menginap di Kost Gesang. Kraton, Taman Pintar Jogjakarta dan juga sejenak menyambangi pasar buku Shopping Centre yang ada di sebelah taman pintar.
Malam hari kami menginap di kost gesang salah satu personil kami yang kebetulan kuliah di Jogja. Petualangan belum berakhir dengan tenggelamnya matahari kala itu, justru ini baru menyimpan tenaga untuk memulai perjalanan panjang esok hari.
            Sarapan "gudangan" atawa "gudeg" sangat nikmat dipagi yang cerah ini. Sembari menikmati gorengan dan segelas teh hangat. Begitu selesai sarapan kami masih punya tugas sebelum melanjutkan perjalanan. Salah satu sepeda kami mengalami masalah pada rantai dan ger. Mendatangi bengkel terdekat untuk melakukan reparasi dan sedikit pengecekan.
           Doa dan Semangat mengawali perjalan kami pagi itu menuju Borobudur. Melewati Sleman dan muntilan rute yang kami pilih, karena itu merupakan jalan utama menuju borobudur meskipun kami tidak tahu pasti jalan tersebut. Saat melintas di Sleman mata kami tak kuasa menolak memandang gerombolan salak pondoh yang terparkir di seberang jalan sepanjang jalan raya. Karena iman kami tidak kuat, kami turun sejenak untuk menikmati salak. Tawar menawar terjadi, bermodal uang 2ribu kami minta diberikan salak yang murah dengan ukuran kecil-kecil karena itu bisa menghemat uang kami.
             Setelah menikmati salak yang sebetulnya itu bukan salak, tapi anak salak kami melanjutkan tanjakan ringan di arah muntilan. Terjadi masalah lagi, kali ini sepeda saya sendiri mengalami gembes ban, dan rupa-rupanya ini bocor, sehingga kami harus mengganti ban dalam terlebih dahulu. Tidak lancar begitu saja memang perjalanan kami, namun inilah nikmatnya bersepeda di jalanan. Muntilan telah kami lalui, sekarang jalan panjang menuju borobudur harus dilalui segera mungkin karena hari sudah agak siang. Kami tak punya tempat menginap di sana, jadi malam ini pula kami harus tolak ke Jogja lagi.
             Borobudur terlihat dari kejauhan, setelah kami melintasi candi mendut sebelumnya. Bangunan yang merupakan salah satu keajaiban dunia itu kini kami lihat juga akhirnya setelah menempuh perjalanan kami. Kalian pasti berfikir kami masuk, beli tiket lantas berfoto-foto di candi. Tetapi itu salah semua, setelah kami melihat harga tiket, tak satupun dari kami yang mau membeli dan masuk kearea candi. tetapi kami tak habis ide untuk tetap bisa masuk, Ahmad dan Kupret meninggalkan semua bawaan di tempat kami istirahat dan mereka masuk candi melewati pintu keluar dengan pakaian seadanya dan sandal japit yang mereka kenakan akhirnya bisa masuk tanpa terlihat sebagai pengunjung.
           Setelah puas berkeliling sekitar borobudur kami putuskan langsung bertolak ke Jogja, tetapi rupanya cuaca sedikit mulai mendung. dengan sedikit tergesa kami kayuh dengan semangat dan canda tawa terus mngiringi kami. Belum lama kami mengayuh, hujan turun dengan derasnya, ditambah dengan angin yang kencang sehingga kami bersepeda terasa berat dan hendak terbawa terbang oleh angin yang sangat kencang sore itu. Tantangan sebenarnya baru dimulai kawan, disinilah kenikmatan paling puncak dari perjalanan kami. dengan perut lapar, tenaga sedikit capek, ditantang untuk menerjang angin kencang dengan derasnya hujan.
          Melintasi kebun rambutan iman kami kembali tidak kuat kawan, kami rampok rambutan yang sedang berbuah banyak saat itu. Tak tanggung-tanggung bergerombol rambutan disikat tanpa ampun. Meskipun semut tidak terhitung jumlahnya kami tak peduli, yang penting makan buah kenyang. Hujan tidak juga reda, kami tetap melanjtkan perjalanan. Sampai di Muntilan kami sepakat untuk berhenti dahulu di warung nasi kucing. Dengan pakaian basah, muka sudah kusut ditambah kami tak memakai sandal. Tak jadi masalah yang penting menikmati jahe panas dulu. Ternyata baru kami sadari setelah habis, jahe itu dari air panas yang baru saja mendidih, tapi kami meminumnya seperti minum es disiang hari bolong. Saking kedinginan badan kami sehingga tak merasakan lagi panas, kami sadar setelah sampai dirumah bibir baru berasa tidak nyaman. 
          Malam sekitar pukul 9 kami sampai di Jogja lagi. Akhir dari perjalanan ini akan kami tempuh besok pagi, sekarang saatnya kami mengistirahatkan tubuh kami yang kedinginan dan capek.

Cerita ini hanya sedikit yang dapat terekam oleh kata-kata, karena setiap petualangan memberikan arti tersendiri bagi yang melakukannya. Kami sadar betul kegilaan kami masih banyak selain ini, namun itu semua menjadi lebih berarti ketika sekarang kami telah dipisahkan oleh jarak dikota kami masing-masing. Sembari menikmati kopi dipagi hari, akan terus aku ceritakan tentang kenangan ini kawan.

S3 tak kan pernah Mati (Sluman Slumun Slamet)
"Ayo Nggontel Lagi"  

0 komentar: