Artikel Menarik
Loading...
Tuesday, May 28, 2013

       
Pagi ini bersemangat ketika mengetahui ini hari selasa, berarti hari ini acara diskusi bareng bang Karni Ilyas di Gd Prof Sudharto UNDIP diselenggarakan. Pukul 9 aku berangkat dari kos langsung ke lokasi, ternyata sudah banyak tamu atau peserta yang hadir disana padahal setahu saya acara masih jam 10. Setelah verifikasi lantas menuju kursi yang tersedia paling depan.
        Acara yang diselenggarakan dikampus terutama di UNDIP apapun namanya, mau diskusi, seminar, lokakarya atau ngobrol bareng lah pasti akhirnya bentuknya jadi semacam seminar ceramah satu arah. dan di akhir diberi kesempatan feedback dengan membuka termin pertanyaan dari peserta. Sambutan dari Prof Yosh menjadi pembuka pagi ini, seperti biasa selalu kocak dan menghibur mahasiswa-mahasiswa model sekarang ini, kalau mahasiswa model dahulu belum tentu langsung terhibur dengan sambutan seperti itu. 
        Bang Karni menyampaikan bahwa judul pada pagi ini adalah Korupsi dari masa ke masa di mata jurnalis hukum, sedangkan Jurnalisme hukum itu sebagai tema besarnya. Korupsi lagi yang selalu dibahas di dalam setiap kajian-kajian baik dikampus maupun tataran praktisi namun selalu saja bahasan korupsi ini hanya sebatas wacana dan ide-ide karena memang tidak mudah untuk bertindak nyata dan terlihat hasilnya. Bukan karena tidak ada tindakan, tapi memang korupsi itu tidak hanya menjadi budaya di Indonesia ini, bang Karni mengatakan ini telah mendarah mendaging dalam setiap masyarakat kita. Lihat saja guyonannya ada spanduk yang dipasang rakyat "Kami Menunggu Serangan Fajar" maka kami pilih. Kalau saja koruptor itu dihukum mati, maka sesuai rumusan arti korupsi yang ada di dalam UU Korupsi maka semua Gubernur, Bupati, Pejabat, Jendral, Dekan, Rektor semua masuk penjara. Karena bukan hanya pemakluman terhadap korupsi namun juga ada sistem yang mengharuskan mereka untuk korupsi.
          Setelah panjang lebar bang Karni menceritakan mengenai korupsi dengan melakukan perbandingan korupsi di jaman sebelum orde baru, saat orde baru dan sekarang ini setelah reformasi. Kalau sekarang Fathonah memberikan uang puluhan juta kepada gadis-gadis itu masih biasa. Kalau melihat pada kasus korupsi yang dilakukan Ahmad Taher yang mempunya istri muda Kartini Taher yang mempunyai belasan Apartemen mewah di berbagai negara-negara di dunia ini, maka kasus korupsi sekarang ini belum seberapa. Namun sekarang ini korupsi menyebar dan lebih banyak orang yang korupsi dengan di berikan wewenang kepada daerah-daerah maka korupsi itu diberikan pula di daerah-daerah. Lihat saja berapa Kepala daerah yang terlibat korupsi.
            Setelah hampir 2 jam menjelaskan mengenai korupsi maka diberikan kesempatan kepada hadirin untuk bertanya. Namun yang menarik disini, justru pertanyaan-pertanyaan itu mengenai korupsi, mungkin pertanyaan tentang korupsi sudah sering dan berulang kali menjadi pertanyaan namun tidak ada perubahan juga. Pertanyaan yang menarik justru tentang TVone dan pengaruh Owner terhadap arah pemberitaan selama ini. Sejauh apa Bang Karni melakukan kritikan atau pemberitaan terhadap Abu Rizal Bakrie. Pertanyaan ini yang menarik, namun Bang Karni menjawab dengan pas pada posisinya sebagai Pimred TVone dengan menjelaskan semua itu tidak mungkin lepas dari pengaruh dan tekanan. Justru tekanan dan pengaruh terbesar itu bukan hanya dari Owner melainkan dari penguasa, dari pemilik uang, bahkan dari pak RT dan calon mertua bagi wartawan-wartawan muda.
             Setelah penjelasan panjang lebar tentang pribadi bang Karni sebelum menutup acara bang karni berpesan bahwa kesuksesannya seperti sekarang ini tidak diraih tanpa adanya kerja keras dan pantang menyerah atau Don't Give Up yang selalu diyakini oleh bang Karni.

0 komentar: