Artikel Menarik
Loading...
Monday, May 27, 2013

Info Post
    Suasana dingin menusuk hingga tulang kami, kabut nampak tebal dengan hembusan angin mengiringi tampaknya cahaya dari ufuk barat. Matahari mulai mengeluarkan keperkasaannya yang terlihat dari puncak gunung tempat kami menikmati selimut malam ini. Cerita ini sengaja saya buat bukan lain hanya untuk meningkatkan gairah kawan-kawan saya yang beberapa waktu yang lalu sempat menunda untuk menapaki gunung Ungaran ini.
       Ini perjalanan kami tahun 2011 yang lalu menapaki gunung yang ada di kabupaten Semarang dan kabupaten Ambarawa ini. Personil kali itu adalah saya sendiri, Mas Fredy, Ridho, Huda, Mas Tenang dan Rossi (kakaknya mas tenang). Semua nama-nama yang aku sebut ini adalah teman sekost Al-Fatah Wonosari kecuali rossi, dia kesini hanya liburan beberapa saat saja.
            Ide naik gunung entah datang dari mana seperti angin yang datangnya tak nampak dan pergi begitu saja. Datangnya tidak kelihatan dan kami langsung berangkat begitu saja tanpa banyak fikir. Dengan peralatan seadanya kami tidak begitu kawatir karena gunung ungaran ini bukanlah gunung yang tinggi dan memerlukan banyak peralatan. Cukup jaket tebal dan tenda Dum menjadi bekal utama kami menapaki Ungaran sabtu malam itu. Berangkat dari kost sore hari setelah persiapan diri dan bekal makanan secukupnya. Setelah melewati jalanan beraspal dari kost (di sebelah RS Karyadi) sampai di Bandungan, kami menanjak melewati jalan dari pertigaan pasar jimbaran belok kanan ke arah Pos Mawar. Jalan tanjakan ekstrim harus dilalui untuk bisa menuju pos mawar, yaitu pos yang biasanya digunakan untuk menitipkan sepeda motor dan meminta ijin pendakian Gunung Ungaran ini. Setelah sempat nyasar entah kemana akhirnya kami ketemu juga dengan pos mawar setelah bertanya berulang kali.
            Di pos mawar kita bisa menggunakan fasilitas tempat sholat, kamar mandi, penitipan sepeda sampai pembelian tiket masuk. Tiket untuk pendakian 3000 per orang dan penitipan sepeda motor 2000 per sepeda motor permalam. Dari pos ini sudah bisa melihat pemandangan lampu kota Semarang yang sangat cantik karena kami disitu sudah malam. Setelah bercengkerama sebentar sambil menunggu saat sholat isya, kami sholat berjamaah di mushola kecil yang ada di sebelah pos mawar. Pendakian dengan rute ini rata-rata memerlukan waktu 4-6 jam, kalau yang sudah ahli dan terbiasa bisa lebih cepat lagi.
          Canda tawa terus keluar dari mulut kami sambil menapaki jalan setapak melewati hutan pinus yang menjulang tinggi. Terlihat sangat bagus di malam hari seperti hutan yang sering dikunjungi Hagrid. Sampai di pos 1 masih mudah untuk dilalui karena jalanan masih datar dan tidak ada tanjakan yang signifikan, hamparan teh dan pepohonan industri yang kami lalui. Semakin malam semakin dingin dengan jaket dan senter kami terus tapaki jalan setapak memasuki jalan yang mulai tertutupi oleh tanaman dan rumput-rumput yang tumbuh meninggi dan sesekali pohon tumbang yang menambah asiknya perjalanan kami.
          Perjalanan terberat berada di pos 3 menuju puncak, jalanan berbatu dengan tebing yang memiliki kemiringan lumayan menantang, ditambah lagi berjalan di malam hari. Meskipun demikian tetap asik dan kami terus bersemangat dengan nafas yang mulai terengah-engah ditengah angin yang bertiup semakin kencang. Setelah melewati batuan mata kami tertuju pada ujung dari perjalanan kami, ya puncak gunung ungaran telah menyambut kami. Dengan mesranya kami peluk tugu yang ada dipuncak, ini pertanda ujung tujuan kami tercapai dan separuh petualangan kami telah terlampaui.
            Mencari tempat yang aman untuk mendirikan tenda dan mengistirahatkan kaki-kaki kami yang sudah capek menjadi tujuan yang harus disegerakan. Di gunung ini tidak jauh dari puncak banyak tempat untuk mendirikan tenda, tempat yang aman dan lumayan datar dilindungi oleh pepohonan. Malam itu banyak tenda yang telah mendahului kami. Tenda terpasang dan kami mulai merebahkan diri sambil bercengkerama tentang apapun. Makanan mulai kami keuarkan satu persatu ditambah dengan minuman hangat. 
         Menikmati matahari yang mulai terlihat, namun sayang pagi itu kabut datang segerombolan, sehingga pemandangan tak terlihat sempurna. Sholat subuh menjadi sangat istimewa ketika berada di puncak ini, kenikmatan menempelkan jidat di tanah dengan suasana dingin menambah kekhusukan ibadah kami. Bersyukur atas nikmat yang telah dibentangkan luas dibumi ini, dari embun pagi hingga cahaya matahari, dari gemericik air sampai hembusan semilir angin dan tak lupa goresan kuas yang menjadi pemandangan yang idah ini. 
    Bergegas kami mencari kayu untuk menghangatkan badan dan memanaskan air untuk menyeduh kopi di pagi ini. Semua menikmati namun sedikit masalah ketika mas Huda merasakan sakit gigi yang timbul karena suhu dingin. Menyiapkan sarapan dan bercengkerama menikmati suasana yang tidak ditemukan di Kota Semarang.
           Sarapan di gunung berbeda makna dengan sarapan di kos kawan-kawan. Kalau dikos kalian biasanya berjalan sebentar ke warung kuning atau ke warteg aero yang ada di seberang jalan suyudono atau khusus hudi dan adeknya masak beras di rice cooker, disini kami makan lebih nikmat dari itu. Kenikmatan suatu makanan itu bukan diukur dari bumbu dan rasa kalau menurut saya, tetapi makanan itu dimakan di kondisi seperti apa. Perut lapar kami ditambah udara dingin menjadi suasana penambah nikmat bekal yang kami bawa. Roti berlapis coklat dan susu ditambah mie instan dan segelas kopi hangat mengisi lambung-lambung kami yang kedinginan.


        Aktifitas setelah sarapan banyak yang kita lakukan, mulai dari berfoto alay hingga bercengkerama sambil memandangi perkebunan teh yang dibalut kepulan embun pagi. Sampai jungir walik gak karuan genahe, ini salah satu kawan kita yang biasa disapa dengan Ridho si Jago Parkour tidak ketinggalan melakukan aksi eksterimmnya (ini saya tulis lebay karena memang aksi ini terlampau exstrem). Kebersamaan terasa begitu lekat diantara kami, tapi hubungan ini antara sahabat, bukan berarti kami homo kawan-kawan.
            Waktu sudah menunjukkan pukul 9, kami mulai berbegas untuk membereskan iler-iler kami yang menempel dibantal dan merapikan tenda untuk segera turun. Hari ini nampaknya cuaca kurang bersahabat karena angin terus saja berhembus kencang dan kabut semakin tebal. Perjalanan turun tidak membutuhkan banyak tenaga daripada naik, namun karena badan sudah sedikit capek untuk naik, maka turun terasa melelahkan juga. Semalam kami naik dalam kondisi gelap dan tidak begitu nampak jalan yang kami lalui, baru pagi ini saat kami turun terlihat jelas kondisi jalan bebatuan, seakan tak percaya kami semalam melalui jalan ini.



     Kondisi jalan semakin terasa licin ketika kaki-kaki kami telah basah. Ditambah sandal telah lepas dari kendaratnya atau japitannya sehingga memaksa kaki berjalan dengan telanjang. Tentu ini justru menambah nikmatnya perjalanan dengan kondisi seperti ini tentu tantangan akan semakin ada.
    Setelah 3 jam yang melelahkan kami berjalan menapaki jalan setapak dan menerobos semak belukar sampai kami di perkebunan teh medini. Selain teh ada pula kopi dan tanaman industri lainnya yang dikelola oleh perusahaan medini. Ocehan terus saja keluar dari mulut-mulut kami yang masih bersemangat untuk terus melangkah. Pose-pose aneh sewaktu berjalan dapat terekam oleh bidikan kamera seperti berikut ini.

       Semakin kami kebawah ternyata angin berhembus semakin kencang dan ini memaksa kami untuk berjalan lebih cepat karena yang ditakutkan adalah hujan dicampur dengan badai. Melintasi dataran yang luas kami tertuju pada segerombolan pendaki lainnya yang tendanya roboh diterjang angin, dengan sigap kami saling bantu, itulah arti persaudaraan dikala kita ada dialam.
        Bau air sudah tercium dari hidung kami, saya hafal betul di depan ada air yang kami lalui semalam. Kami bergegas untuk menyambangi sumber air untuk membersihkan muka dan tubuh yang tidak karuan lagi bentuk dan jenisnya.

        Ada kolam renang yang sekarang tidak terpakai lagi, sepertinya dahulu ini dijadikan tempat rekreasi dengan tenda-tenda dan kursi di pinggiran kolam. Tapi tidak horor seperti pikiran kalian yang membayangkannya. Ini bukan cerita horor bray, bukan pula skrip film horor murahan indonesia. Yang air terjun pengantin lah, nenek gayung lah yang semua cerita pasti ada yang meninggal, dan setan yang berjalan dan membunuh satu persatu. Ini cerita petualangan bray, ini real sangat mengasikkan.
 Selain kolam dan air sumberan yang kami lalui, ada pula aliran sungai yang sangat jernih melintas di jalan setapak. Di sungai ini bisa mandi dan pipis sesuka hati tapi ingat jaga kebersihan dan tidak boleh merusak tatanan bebatuan yang ada disitu.
 Bersyukur atas nikmat perjalanan kami yang sebentar lagi usai, kami terus bersyukur diberikan pengalaman seperti ini. Menambah kekuatan persaudaraan kami dan menambah galeri cerita kami yang akan diceritkan kepada anak cucu dikala senggang di hari tua nanti. Nikmatnya naik gunung tak akan pernah terganti dengan hangatnya balutan selimut dikamar-kamar kalian, degan bantal dacron seharga 120ribu dan juga kasur busa yang empuk. Inilah kenikmatan sesuhngguhnya yang bisa kalian rasakan untuk lebih dekat dengan tuhan dan mensyukuri apa yang telah dibentangkan dibumi ini.

 Sedikit kilasan cerita yang kami buat ini tidak akan pernah terlupa dalam kenangan dan ingatan kami. Kai berdiri bersama disini dan selamanya akan menjadi saudara selamanya. Kalau kalian mengamini apa yang saya katakan tentang keindahan dan serunya petualangan ini ayo sabtu malam minggu besok kita berangkat bray, merasakan langsung kenikmatan yang saya ceritakan ini.

yang merasa punya nyali
yang merasa punya hobbi fotografi
yang merasa punya hobbi mendaki
yang merasa punya jiwa laki
yang merasa ingin menikmati surgawi
atau yang merasa hanya ingin refreshing sejenak dari rutinitas, mari kita bersama menapaki nikmatnya bumi ini

Sabtu 1 Juni jam 15.00 aku tunggu kalian di Aula Wonosari.


Ini foto-foto dibuang sayang disimpan jangan

Kayu-kayu balok yang ditebang sebagai bahan industri, inilah perusak alam sesungguhnya

Pos Mawar dipagi hari setelah kami sampai dan melakukan pengecekan sebelum pulang

nda, aku sakjane gak gelem pisah karo koe, tapi apalah boleh buat dewe kudu mulih
lha opo munggah meneh, tapi raimu wis kesel ngono dho..

             
Hamparan perkebunan teh dilihat dari atas bukit

Kabut datang menambah suasana dingin,
tak saranke bawa mantol  dan jaket masing-masing ya

Tidurpun terasa nikmat dan hangat

Jaket seperti ini disarankan untuk dibawa

golek kayu dinggo gawe geni sik gan, ojo ganggu tak peso sampeyan mengko

Sarung juga jangan lupa dibawa gan

Jangan meniru adegan ini dilain kesempatan
hanya dilakukan oleh model Profesional

0 komentar: