Artikel Menarik
Loading...
Wednesday, April 10, 2013

           Lama tak bersua dengan kicauan burung dan hamparan rumput nan menghijau di TLJ. Ya TLJ adalah sebutan untuk tempatku berolahraga kala di Semarang. Tri Lomba Juang biasa disebut dengan TLJ merupakan wahana olahraga yang disediakan oleh pemerintah kota Semarang untuk memenuhi kebutuhan sarana olahraga bagi warga Semarang. Ada arena lintasan lari, lapangan tennis, lapangan bulutangkis dan ruangan latihan bagi semua cabang olahraga.
           Pagi ini dimulai dengan sholat subuh di masjid yang letaknya hanya 1,2 Meter dari kos dan tidak perlu memakai sandal kala ku hendak kemasjid. Jadi kalau ada orang bilang pulang dari masjid jangan mengambil sandal, aku tidak, soalnya aku tidak pernah membawa sandal saat kemasjid. Dilanjut dengan pengajian pagi dari Ust Emir Putra yang selalu ready untuk memberikan ilmunya tentang tafsir Al-Quran. 
         Waktu pukul 06.45 langsung bersiap untuk bernostalgia dengan TLJ kembali, sudah hampir 3 bulan badan ini tak merasakan nikmatnya tidur, karena kurang olahraga. Saat sampai suasana sudah terlihat ramai dipenuhi dengan barisan mobil yang terparkir rapih di depan TLJ ini. Dan tentu saja parkiran motor tak kalah banyak ada di sisi dalam dari gedung yang diresmikan 14 Oktober 1972 ini.
          Satu putaran, dua putaran, masih juga tidak aku jumpai orang dengan wajah oriental disitu. Dari sekian ratus orang yang berkeliling 99% adalah asli Chinese atau keturunannya, yang 1% itu aku. Putaran ketiga, aku mulai berjumpa dengan wajah-wajah pribumi yang mulai berdatangan. Tidak hanya arena lari saja yang dipenuhi, namun juga sarana area fitnes dan senam selalu padat dengan orang Chinese di pagi hari. Berbicara soal Chinese saya teringat disaat masih bekerja di sebuah restoran China yang menjual aneka es dan jajanan. Saya teringat Chinese karena saya ingat betul nasehatnya dikala itu. "kamu masih kuliah? iya cik, jawab saya kala ditanya oleh Cik Weni salah satu keturunan Chinese yang ada di DP Mall. Kamu kerja disini, itu sebagai pelajaran kamu untuk nantinya kedepan kamu bisa membangun bangsamu sendiri. "Ini bangsamu" kata-kata itu yang membuat saya terdiam saat mendengarkannya. Saya katakan ini bangsamu, bukan berarti kami ini tidak mengakui sebagai warga negara Indonesia, saya cinta Indonesia, tapi saya prihatin melihat tingkah orang yang asli bangsamu sendiri bersikap terhadap negaranya sendiri. Kamu harus serius dalam kuliah, kamu juga harus belajar bagaimana berbisnis, nanti saya ajarkan.
           Selain dari pelajaran yang aku dapat ketika itu, disini (TLJ) pula aku selalu tertarik untuk mengamati setiap orang yang berkumpul. Kadang saya sempatkan untuk mengobrol sedikit dengan mereka, walaupun kadang hanya melempar sapaan. Aku berfikir kadang kita masih enggan untuk berolahraga, dengan berbagai alasan, mulai yang sibuk berkerja dan juga sudah terlalu banyak aktifitas sehingga itu sudah cukup sebagai olahraga. Tidak kita sadari lama-lama kita termakan oleh rasa sakit dan waktu yang semakin sempit karena kita selalu berikir bahwa waktu kita sempit.  Berbeda dengan mereka Chinese yang selalu berolahraga, karena pola pikir mereka sebagian besar adalah bagaimana urutan nomor satu itu adalah menjaga kesehatan. Kita tahu tradisi Cina yang dikenal dengan beribu-ribu ramuan tradisionalnya, ini sedikit banyak menunjukkan bahwa mereka memikirkan kesehatan, lantas bagaimana dengan jamu-jamu kita yang selama ini menjadi warisan dari nenek moyang. Apakah kita masih ingat apa saja nama jamu-jamu asli Indonesia. Selain itu mereka mempunyai waktu yang relatif luang, karena maindset mereka yang bukan berkerja mencari uang, melainkan maindset uang bekerja untuk mereka. Dunia perdagangan itu menjadi tujuan utama dari sebagian besar Chinese ini, tidak seperti kebanyakan dari kita yang masih menganggap ketidak-mapanan dalam perkerjaan itu sebagai suatu hal yang kurang baik. Telah dikenal ribuan tahun Cina telah menguasai perdagangan dunia dengan produknya yang terkenal murah dan lengkap.
        Dari hal yang saya tangkap di TLJ ini, kebanyakan dari mereka yang kesini selalu membicarakan urusan bisnis sembari berlari-lari kecil. Banyak pula aku lihat di kursi-kursi seberang lintasan duduk sambil menikmati teh dan gingseng hangat sembari membicarakan expansi bisnis, kerjasama bisnis, perkembangan usaha dan lain sebagainya. Saya belajar bahwa Chinese kuat karena jaringan mereka yang sangat besar dan kuat. Mereka yang menganggap minoritas, justru lebih solid dalam dunia perdagangan. Bagaimana dengan kita yang masih saja saling menjatuhkan dan berusaha mengungguli pesaing bisnis dengan cara-cara yang justru merugikan diri sendiri.
       Disaat mereka membangun jaringan bisnis yang kuat, kita dengan sesama orang Indonesia saja saling melotot ketika berpapasan dijalan karena sedikit senggolan motor (ini ketika saya pulang). Kerjasama kurang kuat sesama bangsa sendiri, masih minimnya implementasi nilai persatuan dan kesatuan. Dunia bisnis dan perdangan Indonesia belum benar-benar bisa dijalankan oleh bangsa sendiri. Padahal kita ingat ajaran Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa 90% rezeki itu ada di perdagangan.
       Sebagian dari kita mungkin datang ke TLJ kalau ada konser musik saja. Atau datang ke TLJ hanya ingin pamer Iphone terbaru dengan headset full bas yang dipasang ditelinga. Bagus sekali Iphone dan Androitnya yang mereka beli dari hasil merengek pada orang tuanya. Disisi lain orang kaya Cina memberikan pembelajaran pada anak mereka tentang arti madiri dengan mengajarkan berbisnis sejak kecil.
        Beberapa waktu lalu saya juga bercakap-cakap dengan teman saya soal Chinese ini. Kawan saya merasa jengkel dengan orang cina yang menguasai bisnis di Indonesia ini. Lantas saya tanya, kenapa kamu tidak suka?, toh dia juga berusaha untuk menghidupkan bisnisnya, mereka juga membantu perkembangan negeri ini. Kawan saya ini marah karena menilai saya ini liberal yang pro dengan bangsa luar yang tidak lagi sejalan dengan jiwa reformasi saat itu yang menganggap cina itu memonopoli perdagangan kita. Kita tidak perlu lagi menyalahkan, kalau berani, ayo bersaing untuk sama-sama menumbuhkan bisnis yang sehat.
       Saya tidak mengatakan semua dari cina itu baik dan semua dari kita itu buruk. Ini hanya sebagian perbandingan dalam hal bisnis dan sedikit segi kehidupan dari kaca mata saya. Apabila pembaca merasa marah itu justru bagus, karena telah mendapat tamparan yang selanjutnya berusaha untuk membangun negerinya sendiri, daripada merasa setuju dan masih mempertahankan maindset tidak mau belajar dari mereka. Akhir kata saya tidak mengharuskan untuk setuju atau tidak setuju dengan tulisan murah dari saya ini, yang menjadi harapan saya bagaimana kita senantiasa belajar dimanapun dan dalam keadaan apapun.  Pesan Nabi untuk belajar sampai negeri Cina sekarang benar-benar terjadi saya belajar dari Chinese.
     

10 April 2013

0 komentar: