Artikel Menarik
Loading...
Saturday, March 30, 2013

Info Post
               Lek kowe entuk solar ko ngendi, aku wis nang SPBU Cawas solar entek, SPBU Kurung Solar yo entek (lek kamu dapat solar dari mana, saya sudah ke SPBU Cawas Solar habis, SPBU Kurung juga habis). Minggu terakhir di bulan Maret ini kelangkaan solar terjadi di beberapa wilayah, di Semarang telah diberitakan mengenai kelangkaan solar ini seminggu yang lalu. Saat saya pulang ke kampung halaman yaitu Klaten, ternyata mulai kemarin hari Jumat, kelangkaan juga sudah mulai terjadi. Di beberapa SPBU stok solar habis, dan kalaupun ada, tidak melayani pembelian dengan derigen. Hal ini tentu saja berakibat pada banyak hal, tidak hanya terhadap angkutan atau transportasi yang kebanyakan memakai solar sebagai bahan bakar. Tentu juga berpengaruh terhadap kesejahteraan petani dan juga nelayan. Dalam hal ini saya menulis sedikit tentang keluhan yang dialami petani Di Indonesia dan khususnya di Klaten kampung saya berasal. 
              Petani yang mayoritas menanam padi dengan masa tanam 3 kali setahun dengan pasokan air dari rawa Jombor dan juga air sumberan Sigedang (Cokro Tulung). Mampu menghasilkan persediaan beras untuk wilayah Klaten dan bahkan bisa memasok ke daerah lain. Salah satu Produk pertanian dari Klaten yang terkenal yaitu Beras Delanggu, salah satu jenis beras yang digemari oleh sebagian masyarakat di Jawa Tengah karena rasanya yang enak dan memberikan rasa pulen serta harganya yang tidak terlalu tinggi bila dibandingkan dengan beras memberamo dan rojo lele. Sekali panen di musim penghujan untuk satu petak ukuran 800 sampai 1000 m petani bisa menjual hasil panennya dengan harga 2-3 juta dan 4-5 juta disaat musim kemarau.
             Namun gambaran diatas kini tidak ada lagi, petani untung tinggal sejarah. Petani kini menghadapi pilihan sulit, faktor penyebabnya harga beras dipasaran di monopoli oleh tengkulak, cadangan air sebagai irigasi telah berkurang karena faktor iklim dan juga faktor dipakainya sumber air tanah oleh Aqua, selain itu banyak pengusaha yang mengalihfungsikan lahan sebagai toko, hal ini memberikan pengaruh terhadap kwalitas pertanian. Ditambah lagi dengan berita kelangkaan solar ini, hal ini membuat petani yang saat ini sedang masa tanam, tidak bisa membajak sawahnya karena traktor tangan tidak berjalan karena tidak tersedianya solar. Toh kalaupun ada harga dipasaran mencapai harga 5.500 sampai 8000 eceran dipasaran dari harga semula 4.500 di SPBU.
        Tentu mau tidak mau pemilik traktor menaikkan harga karena naiknya biaya operasional untuk menjalankan traktor. Petani penggarap sawah pun semakin berkurang karena sedikit orang yang mau bertahan di kampung untuk bercocok tanam. Daerah Klaten terutama Klaten pinggiran seperti Cawas, Trucuk dan Bayat hampir 85% penduduk usia Produktif merantau ke Kota-kota seperti Semarang, Jakarta, Surabaya dan Tangerang juga Bekasi bahkan ada yang sampai keluar Jawa. Tentu saja hal ini berpengaruh terhadap upah buruh (tenaga kerja) yang ada di kampung. Kelangkaan Pupuk juga sudah terjadi 5 tahun belakangan semenjak pupuk sulit didapat, harga pupuk melejit dan sebagian petani mulai beralih kepada campuran pupuk kandang. 
            Solar yang sengaja dilangkakan atau memang langka ini menjadi pertanyaan bagi saya untuk mencari tahu lebih lanjut. Saya datangi beberapa SPBU untuk menanyakan faktor penyebab kelangkaan solar ini. Dari pihak manajemen SPBU mengatakan jatah pasokan solar dikurangi dari yang biasanya 30.000 liter setiap 2 hari menjadi seminggu sekali. dan selain itu sebenarnya saya tidak boleh memberi tahu tentang apapun mas sembari menunjukkan pesan singkat dari divisi pemasaran wilayah Semarang.
Yth bapak ibu kami sampaikan kembali apabila ada pertanyaan wartawan/ media terkait stok/ pelayanan SPBU agar diarahkan ke external relation kami sdr Heppy 081296949Pihak SPBU tidak diperkenankan memberikan pernyataan apapun. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih . Salam. 
        Apabila pemerintah menilai penggunaan bahan bakar solar melebihi target dari yang dianggarkan, waktunya pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tepat dan harus komprehensif. Agar hal semacam ini tidak menjadikan keresahan di masyarakat. Yang harus diperhatikan oleh pemerintah tidak hanya melakukan efisiensi terhadap bahan bakar tanpa memperhatikan imbasnya lebih jauh. Meskipun permen ESDM No 1 tahun 2013 tentang pengendalian penggunaan bahan bakar minyak telah dikeluarkan, di dalam penerapannya seharusnya ada koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Kalau permen ESDM No 12 tahun 2012 hanya berlaku di wilayah JABODETABEK dengan permen No 1 tahun 2013 ini mulai bertahap di seluruh wilayah di Indonesia. Dalam tataran penerapan harus disosialisaikan secara benar dan justru tidak tersembunyi yang pada akhirnya justru menciptakan ketidak stabilan pasar. Spekulan dan pengepul Solar bertindak dengan memanfaatkan momen ini untuk meraih keuntungan yang berlipat, sehingga imbasnya kembali lagi saya katakan dalam tulisan ini adalah Petani yang semakin tercekik dengan bermacam kebijakan yang tidak pro dengan hasil agrikultural padahal negara kita adalah katanya dikenal dengan sebutan negara agraria dan maritim. namun generasi sekarang tidak ada lagi yang bercita-cita menjadi petani dan nelayan.
Sekian dan Selamat siang....

0 komentar: