Artikel Menarik
Loading...
Tuesday, July 3, 2012

        Masih bengong dikamar dengan aktifitas yang tidak begitu padat disabtu sore ini, dengan memandang laptop sambil bernostalgia melihat-lihat folder demi folder koleksi foto di laptop kecil ini. Kembali membuka lembaran cerita petualanganku ketika masa SMA. Cerita yang tidak sengaja dibuat untuk publikasi ilmiah dengan bahasa tingkat tinggi, bukan pula untuk mengisi kolom majalah advanture, tetapi hanya sekedar berbagi dan juga menyimpan cerita ini dalam sekelumit tulisan dan gambar. Karena kenangan ini tentu tidak akan terlupa oleh kita kawan disaat kita sedang menikmati indahnya sore di balkon lantai 2 dengan ditemani segelas teh tanpa gula sambil melihat cucu-cucu kita sedang bermain bola di halaman depan. Kalau orang bilang bersepeda itu menyenangkan, maka aku bilang bersepeda itu bukan hanya menyenangkan, namun lebih dalam dari filosofis dibalik makna bersepeda. Ada rasa setia kawan, perjuangan bersama, gotong royong dan juga arti sebuah kebersamaan. Ini dimulai ketika muncul gagasan untuk kembali menunggangi sepeda-sepeda kita kawan, setelah sukses dengan sepeda kita "di edisi sepedaan ke Semarang" tidak enak tidur, tidak enak makan karena yang terfikir kapan kita bersepeda lagi. Tanpa perlu banyak cing-cong kita berkumpul dipagi buta.
sebelum jam menunjukkan pukul 6 saya sudah datang
Sepeda telah kita siapkan untuk menapaki jalanan beraspal Klaten-Magelang di musim penghujan   namun pagi itu matahari masih cerah. Pagi-pagi dengan udara segar, rerumputan masih nampak ditunggangi oleh percikan air dari embun yang setiap pagi setia datang di Klaten ini.

Canda tawa celotehan ringan terus kita lakukan tanpa henti, kekonyolan ucapan tidak bisa terkendali. Badan terasa sudah tidak sabar untuk melaju di jalanan. Persiapan Chek sepeda dan peralatan seperti pompa, kunci, ban ganti dan spartpart lainnya telah usai. Diawali dengan teh hangat sinambi cemilan ringan "telo pohong" cukup mengisi perut-perut kami. Base Camp diperjalanan kedua ini yaitu rumah Nanang Gesang di daerah Trucuk Klaten tepatnya 12 Km dari pusat kota Klaten.

          Rute kali ini tidak semuanya kita pahami, hanya Jogja saja yang kita tahu karena salah satu personil kita kuliah di Jogja, sedangkan Magelang masih negeri antah berantah bagi kami, awam tentang rute jalanan Magelang. Dalam perjalanan tidak penting apa kita tahu atau tidak kawasan yang akan kita tuju, yang penting "nekat" kata bang Kupret (Nanang Pratmaji) = yang fotonya nampak nyengir dengan postur gempalnya dengan kata-kata khas "aku tidak lho nak".

          Konyol ini si Mamad (Ahmad Taufik Ismail), lha wong mau sepedaan jauh kok sepeda saja tidak punya, walah kacau juga ini anak. Tetapi dapat pinjaman sepeda juga akhirnya. Ya, ngomong-ngomong soal Mamad, anak satu ini paling nyleneh dan aneh di gerombolan kami, ngomongnya banyak, "nyrocos wae" tapi menghibur. Kuliah di IAIN Surakarta dengan tampang tidak meyakinkan sebagai seorang ustad, tapi dia punya jiwa muslimin.
       Personil keempat yaitu Anton Sri Pambudi (panggil saja Anton), yang satu ini kuliah di UNDIP jurusan Administrasi Publik, dengan gaya khasnya bocah penggemar dangdut koplo ini mempunyai jiwa berpetualang tidak kalah hebatnya dengan yang lain. Dia selalu hadir dalam petualanganku, semisal di gunung Lawu, gunung Ungaran dan juga di pantai Marina.

Melewati Klaten masih dengan kondisi dinginnya pagi, embun masih terlihat jelas dijalanan, daun-daun masih basah terlihat segar. Sepeda segera kita pancal memulai perjalanan kali ini. tujuan pertama kami pokoknya sampai Jogja dulu, baru arah selanjutnya menyesuaikan keadaan nantinya.
         Belum juga keluar dari klaten, si Kupret ada saja idenya dengan mengajak melepas bendera partai yang banyak terpasang di jalanan, karena waktu itu memang mendekati pemilu 2009. Mengambil tiangnya saja diganti dengan bendera merah-putih yang Gesang bawa selalu dalam setiap perjalan kami. Bendera partainya? ya dibuang saja, wong tidak ada gunanya juga sebenarnya mereka memasang bendera partai sebanyak itu. Masyarakat tidak melihat bendera partai sebagai media kampanye untuk memilih calonnya, namun bendera partai ya hanya kain yang mengotori pemandangan kampung, tak lebih dari itu.
          Jalan Pemuda yang menjadi jalan utama di Kabupaten Klaten mulai ramai ketika kami melintas disana. Jalan Pemuda adalah jalan utama Solo-Jogja, hanya jalan inilah yang paling ramai di Klaten karena jalan penghubung antar kota Surakarta dengan Yogyakarta, jalan ini memiliki sejarah panjang ketika itu (akan saya ceritakan dalam edisi lain). Kantor Bupati Klaten, kantor DPRD, pusat perbelanjaan, sekolah-sekolah dan kantor-kantor berjajar di sepanjang jalan Pemuda ini. Kalau foto di tempat wisata itu biasa, atau foto distudio itu lebih wajar lagi. Tapi kami tidak seperti itu dengan biasa-biasa saja. Angel foto yang kita pilih saat di Klaten ini adalah di tulisan jangan menginjak rumput di halaman kabupaten, nah itu kesempatan buat kita berfoto dan menginjak-injak rumputnya. 
          Sepanjang perjalanan tak henti dari kata-kata ejekan, kata-kata canda dan hal-hal konyol. Memasuki daerah Jogja berarti memasuki Provinsi lain, namun masih sama kulturnya dengan Klaten. Batas Klaten-Jogja adalah Candi Prambanan yang menjulang tinggi dibangun abad 9. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti , tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Kalau aku baca saat berkunjung ke candi ini ada prasasti Siwagrha nama asli komplek ini adalah Siwagrha (bahasa sansekerta yang bermakna "Rumah Siwa") dan memang di candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menunjukkan bahwa di candi ini dewa siwa lebih diutamakan. Tapi kalau sekarang yang lebih diutamakan ya Bule-Bule dari mancanegara yang diutamakan dari pada penduduk asli sekitar candi itu. Pemerintah daerah juga yang tidak diutamakan karena pendapatan masuk ke Nasional bukan Daerah.
          Sarapan telo pohong tidak mampu menahan perut-perut kami untuk diam, sampai di Jogja istirahat agaknya perlu untuk kami sekalian meluruskan kaki-kaki yang sudah menggenjot sepeda. kalau sarapan terus nyari warung makan itu sudah umum, apalagi di kota pendidikan nyari makan banyak banget. Satu lagi yang aneh yang kita sukai, membawa bekal sendiri, apa kurang aneh? eits tunggu dulu, bekal ini bukan sembarang bekal. Ini bekal yang dibawa Anton dari rumahnya, gak tau kok bisa dapet ide membawa bekal ini. Anton membawa "nasi kondangan" nasi dalam wadah cething dibawa dengan bungkus plastik hitam besar berisi lauk diatasnya, seperti nasi yang dibagikan saat hajatan dikampung. Walah kok ya dibawa sekalian wadahnya dimasukkan tas, "yen digole'i mbokmu piye ton cethinge". 
Bersambung...

2 komentar:

Anton said...

luar biasaaaa..!!!!!

Lilik Haryadi said...

kapan ki ya ngontel meneh, wis gatel kie kempolku