Artikel Menarik
Loading...
Friday, July 6, 2012


Durasi : 110 Menit
Genre : Drama
Prodesur : Ari Sihasale
Sutradara : Ari Sihasale
Penulis Naskah : Jeremias Nyangoen
Pemeran : Simson Sikoway sebagai Mazmur, Abetnego Yogibalom Sebagai Thomas, Laura Basuki Sebagai Vina, Lucky Martin sebagai Nyong, Lukman Sardi sebagai Samuel, Michael idol sebagai Michael, Putri Nere sebagai Elsye, Ringgo Agus Rahman sebagai Ucok, Ririn Ekawati sebagai Dr. Fatimah, Frisca Waromi sebagai Suryadi, maria Resubun sebagai Agnes, Razz Manobi sebagai Yokim, Yullex Sawaki sebagai Jollex.
       
       


        Kali ini saya menulis sedikit mengenai film yang baru saja saya tonton, dari judul filmnya ini merupakan film asli Indonesia. Film garapan Ari Sihasale ini mengisahkan mengenai kehidupan Indonesia di ujung timur yaitu Papua. Dengan penggambaran yang menonjolkan shoot pada alam Papua yang indah dengan pegunungan yang membentang luas, film ini mengisahkan konflik yang terjadi di dalam masyarakat adat papua. Film yang dirilis dikala liburan sekolah ini memang bertujuan untuk disuguhkan kepada anak-anak sebagai film edukasi mengenai wajah pendidikan, perjuangan, pengorbanan dan juga mengenai konflik yang dialami seorang bocah (Mazmur) di dalam kehidupan keluarganya. Mazmur setiap pagi mendongak kelangit memandang awan mengharapkan datangnya pesawat, bukan karena Mazmur ini anak udik yang tidak pernah melihat pesawat, namun dia ini menanti datangnya pesawat yang membawa guru mereka. Setiap pagi itu pula Mazmur berkata kepada teman-temannya "guru belum datang, kita menyanyi saja". Logat khas Papua inilah yang menjadikan film ini syarat dengan budaya. Cerita yang disajikan kental dengan adat Papua yang masih alami, namun disisipi cerita pertentangan mengenai eksploitasi alam Papua dan juga konflik antar suku dan dilema dengan pendatang. Dikisahkan ada pendatang (Agus Ringgo) menabrak bocah dengan motornya dan didenda dengan denda adat.
        Meski matahari bersinar setiap pagi dari ujung timur Indonesia terlebih dahulu, namun tidak dengan pendidikan, ujung timur Indonesia belum tersentuh pendidikan yang layak. Guru yang dinanti Mazmur telah pulang ke Jayapura 6 bulan, dan belum ada pengganti. Namun hal ini tidak menurunkan semangat bocah-bocah papua ini untuk belajar, mereka bersemangat untuk belajar dari alam, dari orang disekitar mereka, seperti dari seorang pendeta satu-satunya yang ada di sana, pendeta Samuel namanya.
          Rasa riang yang dijalani anak-anak ini setiap hari pada klimak film ini di ganggu dengan adanya konflik antar suku yang terjadi di Papua. Ayah Mazmur (Blasius) menjadi korban pemanahan oleh ayah Agnes setelah terjadi percekcokan di pasar. Setelah itu konflik antar suku telah mengantar pada suasana yang mencekam, pembakaran rumah adat oleh suku dibalas pula oleh suku lain. Di Papua dikenal semboyan "mata dibalas mata, gigi dibalas gigi" inilah yang dipegang teguh oleh Alex paman Mazmur. Namun ditentang oleh Michael adik Blasius yang masih sedarah dengan Alex, Michael yang datang dari jakarta bersama istrinya Vina (Laura Basuki) setelah mendengar kejadian yang menimpa keluarga mereka. Michael ini merupakan saudara Blasius yang bersekolah di Jakarta dan bekerja di sana dengan mama Jawa-nya. 
       Disini juga disinggung pula mengenai perbedaan suku antara Jawa, Papua dan Cina, yang dikemas dalam konflik datangnya Michael kekampung halaman dengan budaya yang telah bercampur dengan budaya Jawa dan juga memiliki istri Cina. Meskipun masyarakat memandang sinis terhadap Michael termasuk juga Alex, namun perlahan Michael  tetap  mengajarkan dengan sabar mengenai cinta kasih yang merupakan ajaran tuhan yang dipegang teguh oleh Mike ini. Genderang perang terlanjur telah ditabuh, perang antar suku sudah tidak bisa dicegah lagi. Alex meninggal setelah tertancap busur panah di dadanya dan dr fatimah terlambat mengobati karena dia telah berjanji tidak akan mengobati orang yang terluka akibat berperang, namun setelah anak-anak dengan polosnya merengek padanya dia mau mengobati, namun itu sudah terlambat.
   Setelah peperangan berhasil diredam oleh pendeta Samuel, Ucok bersama Michael, peperangan lanjutan tidak bisa dihindari, ditambah lagi terbunuhnya Yacob tetua adat yang masih memegang teguh aturan adat ini ketika hendak mengantar michael pulang ke Jakarta. kedua suku kembali berperang dengan pakaian khas adat Papua ketika perang.  
      Tidak tahan lagi dengan pertikaan antar orang dewasa, anak-anak ini dengan ketulusan dan kepolosannya mencoba menghentikan pertikaian yang terjadi dengan nyanyian. Dengan ketulusan dari anak-anak mereka inilah yang membuat orang-orang dewasa ini meletakkan senjata mereka kembali dan menyudahi perang. 
      Ini hanya gambaran kecil mengenai kehidupan suku pedalaman yang ada di Indonesia, masih banyak suku lain yang masih belum tersentuh oleh pemerintah. Konflik antar suku, petikaian orang dewasa tidak mereka sadari sebenarnya berdampak pada anak-anak mereka. Didaerah lain masih banyak bagian wilayah indonesia yang masih memegang teguh adat dan nilai-nilai adat, namun dalam film ini nilai itu lebih terkesan nilai-nilai yang dianggap kurang baik oleh orang kebanyakan yang lebih dominan. Semisal perang adat, pemikiran masyarakat adat yang masih terbelakang. Padahal banyak nilai adat Papua yang merupakan nilai luhur mereka dari berabad-abad lalu yang. Untuk masalah nilai nasionalisme di film ini kental, ditunjukkan dengan simbol-simbol bendera merah putih yang senantiasa berkibar di depan sekolah, dan juga di akhir film seorang anak kecil yang melambaikan sepotong kain berwarna merah-putih.
      Bagi penggemar film -film Indonesia pasti tidak akan melewatkan film ini. Bagi saya pribadi awalnya tidak nggeh untuk melihat film ini, tetapi setelah menonton di bioskop, oke juga ini film untuk menambah motivasi. Penggemar Lukman Sardi tentunya tidak mau ketinggalan adegannya dalam film ini, karena seperti kita tahu Lukman Sardi selalu total dalam beberapa filmnya terdahulu.
       Secara Keseluruhan film ini bagus untuk edukasi, tetapi kurang pas jika ditonton oleh anak-anak tanpa pengawasan orang tua, karena banyak adegan fulgar peperangan, orang mabuk sampai muntah, sampai adegan miris saat potong jari. Tentu makna dari adegan ini tidak bisa ditangkap oleh anak-anak secara langsung tanpa ada penjelasan dari orang tua.       
         Film semacam inilah yang mampu memberi edukasi ditengah maraknya film-film horor Indonesia yang bagi saya itu hanya sampah, secara awam saya melihat tidak bermanfaat dan juga tidak bermutu. Seperti belakangan ini bangkit dari kubur, mama minta pulsa dan lain-lain terdahulu saya tidak hafal karena males dengan itu. Namun kembali lagi kepada penonton semua untuk menilai secara pribadi. Karena semua ini kembali lagi dari penilaian saya pribadi. Kritik dan saran terhadap sebuah hasil karya film harus selalu diberikan agar perkembangan perfilman Indonesia semakin bermutu. Sebagai penikmat film mari kita peduli dengan Film-film hasil karya anak bangsa. Referensi film-film lain seperti King (2009) yang mengambil lokasi di wilayah Jawa Timur, kemudian film Tanah Air Beta (2010) yang berlokasi di Kupang NTT, ada juga Serdadu Kumbang (2011) di Sumbawa. Film-film tersebut memperlihatkan landscape Indonesia dengan keindahannya.

Selamat menonton...berilah penilaian dari anda sendiri dan juga ambil manfaatnya dari sebuah film.

Sekian dari saya, 
Penikmat Film bukan Pengamat Film

0 komentar: