Artikel Menarik
Loading...
Thursday, June 7, 2012


Sore sekitar pukul 4, masih tetap di balkon kosan di Semarang, ketika aku menulis ini. Sore itu masih sama dengan sore-sore sebelumnya, masih ditemani dengan alunan musik keroncong lembut mengalun menemaniku memandangi matahari yang mulai letih dan mulai kembali keperaduannya. Dibenak ini masih terbesit satu pekerjaan yang dari kemarin mulai menggelayuti otak ini. Pekerjaan yang hadir menjadi bayang bayang dikala kamis datang, menandakan weekend tinggal esok lusa. Akhir pekan terdengar sangat menyenangkan bagi kebanyakan orang yang telah beraktifitas seminggu penuh, ya ada yang tidak beraktifitas seminggu penuh tetapi juga senang mendengar akhir pekan akan tiba.
            Akhir pekan menjadi sesuatu yang perlu ditunggu untuk mengendorkan saraf yang menegang selama seminggu ini. Namun tidak bagiku, selagi kamis mulai datang, seiring pula bayangan tugas itu datang. Ya tugas kuliah itulah yang aku sebut dengan pekerjaan di muka tadi. Tugas kuliah itulah yang senantiasa setia menghampiriku dikala akhir pekan tiba. Laptop mini ini senantiasa setia meskipun terkadang aku lupa untuk memberinya energi dari colokan 5 yang ada dikamarku. Sampai pernah pula si putih ini mati dengan paksa, seakan jiwanya dicabut oleh malaikat isroil dengan tanpa belas kasih. Ya aku yang lebih tidak belas kasih terhadap laptop ini. Sudah 48 jam penuh ku ingat laptop ini tidak mati, mungkin hanya tertidur sebentar kubangunkan lagi.
            Masih disuasana sore, karena hari seakan enggan untuk segera berganti malam. Hangat matahari sore masih bisa aku lihat dari celah ventilasi kamarku yang mulai berdecit ketika aku buka. Mungkin fawzi lupa memberinya oli kemarin lusa. Sekarang jadi seperti itu, namun masih bersyukur dia masih mau untuk membuka memberikan kesempatan kepada cahaya matahari, kepada angin yang berhembus agak sinis sore itu.
Kembali lagi pada tugas, kembali lagi pada kewajibanku untuk mulai membuka lembaran demi lembaran buku yang sudah aku pinjam berminggu-minggu ini dari perpus di seberang jalan itu. Juga beberapa buku yang aku lupa entah kapan seharusnya aku kembalikan ke perpustakaan kampusku yang kini kian dingin dengan tidak adanya mahasiswa yang menyambanginya. Ingat kampus aku jadi ingat makam kota “Bergota” yang hampir saban hari aku lewati, aku pandangi dengan ringan sambil tetap berkonsentrasi memegangi pegangan gas motorku. Yah seperti itulah kampusku kalah dengan bergota untuk urusan ramainya. Bergota yang kini mengalahkan kampusku yang mulai sepi. Buku aku buka, ku belai satu persatu dari halaman depan, namun aku belum bertemu dengan apa yang aku cari. Kumulai lagi lembaran berikutnya, namun masih saja berkutat pada teori dan filsafat. Kenapa teori-teori ini dan filsafat-filsafat itu tidak aku mengerti sore ini. Apa aku lupa untuk menyimpannya di dalam otakku ketika kemarin minggu yang lampau dosen Profesorku memberi tahuku mengenai hal itu. Ah otakku mulai karatan ini mungkin, sepertinya Fawzi juga lupa untuk memberinya pelumas semacam oli yang dia beli kemarin dengan uang sakunya.
            Semakin aku mencari sepertinya ada sedikit ganjalan yang mulai menggelayut di mata ini. Otak mulai perlahan menemukan ujung dari jalan menuju apa yang aku cari, namun mata ini kembali dibebani dan kembali otak ini berhenti. Payah ini otakku lupa diberi oli.
            Jurus lama masih manjur untuk sore ini sepertinya, kopi kapal api hitam jenis kopi luwak harus aku seduh. Ya dicampur dengan sedikit gula pemberian dari ibuku ketika aku pulang bulan lalu. Gula yang hampir aku lupakan ternyata masih tersimpan rapi di almari lantai 2 yang berwarna biru dikamarku. Ternyata kopi hangat ini yang bisa membuat otakku kembali berjalan, terimakasih pemetik kopi yang merelakan tenaga dan waktu kalian untuk senantiasa memetik kopi untuk saya disore yang hangat ini.
            Bukan masalah apa-apa aku menulis ini, hanya teringat kembali tentang cerita kemarin lusa aku membaca artikel tentang pemetik kopi. Ingatan itu kembali lagi ketika harumnya aroma kopi membuka mata yang mulai lelah ini. Ingatan ini tentang kopi lebih baik dari pada ingatanku tentang teori dan filsafat. Tetang apa itu yang aku cari, tentang apa itu akhir pekan yang memberi arti entah apa kepadaku. Hanya secangkir kopi ini yang masih aku ingat tetap setia memberiku arti bahwa akhir pekan itu hari yang menyenangkan.
Selamat menikmati indahnya sore dengan matahari yang mulai menghilang dari langit Semarang sore ini, ketika ini selesai aku tulis selesai pulalah tugas kuliah akhir pekanku.
Terimakasih pemetik kopi, jasamu kukenang selalu

0 komentar: