Artikel Menarik
Loading...
Saturday, March 17, 2012

Lilik Haryadi
Mahasiswa Program Fast Track 2012 Magister Ilmu Hukum
Universitas Diponegoro Semarang

Sosiologi hukum, jika kita mendengar kata itu mungkin yang terlintas di pikiran adalah ini ilmu baru yang belum popular dan tidak dapat diterapkan dalam dunia hukum di Indonesia. Tetapi sesungguhnya lebih jauh makna tentang kajian sosiologi hukum. Hukum itu erat kaitannya dengan ilmu sosial, dalam konteks demikian itu bahwa hukum itu tidak jatuh dari langit seperti apa yang disampaikan oleh Prof Esmi dalam bukunya pranata hukum. Hukum itu berada bukan dalam ruang hampa, seperti teori Sinzheimer bahwa hukum tidaklah bergerak pada ruang yang hampa, melainkan selalu berada pada tatanan sosial tertentu dan dalam ruang lingkup manusia-manusia yang baru.
Di dalam bekerjanya hukum itu selalu bersinergi dengan kekuatan sosial masyarakat. Hukum itu lahir dari suatu tatanan kebiasaan yang ada di masyarakat, sehingga hukum erat kaitannya dengan ilmu sosial. Dengan demikian tepat bila digunakan ilmu sosial di dalam mempelajari hukum karena hukum tidak terlepas dengan proses sosial masyarakat. Apabila hanya dikaji dari segi hukum tanpa menggunakan kajian ilmu sosial maka hukum akan tertinggal sebagai ilmu masa lalu orthodox. Dengan perkembangan kehidupan manusia maka hukum berkembnag pula, maka seiring perkembangan tersebut maka kajian sosial sangatlah tepat.
Ketika orang melihat bekerjanya hukum maka tidak hanya sebatas pada melihat produk hukum itu saja sebagai tindakan mengeluarkan peraturan formil. Tetapi melihat lebih jauh pada filosofis hukum itu sebagai apa. Pengaturan hukum itu bukan saja dilihat dari segi legitimasinya dan bukan juga semata-mata dilihat dari ekspresi nilai-nilai keadilan, maka dari itu suatu cara berfikir aliran non analitis tidak melihat lagi hukum sebagai lembaga yang otonom melainkan sebagai lembaga yang bekerja untuk dan di dalam masyarakat. [1]Kajian sosiologis juga tidak hanya pada bekerjanya hukum saja, melainkan pada tatanan formulasi atau penyusuan  hukum sosiologi hukum telah memberikan warna baru di dalam pembentukan hukum tersebut.
Seperti dalam beberapa kasus yang terjadi pada belakangan ini fungsi sosiologi hukum sangatlah kentara. Dalam kasus mbok minah, seorang nenek tua yang didakwa dengan pasal 362 tentang pencurian ini sempat menjadi pembicaraan yang panjang di berbagai kalangan. Bercermin dari kasus ini bahwa hukum tidak serta merta harus saklek dengan diterapkannya peraturan saja, namun terlebih penting bagaimana hukum itu diterapkan dengan melihat dari sisi-sisi sosial. Nilai keadilan sesungguhnya lebih sulit dicapai dari pada sebatas penerapan pasal-pasal yang terbatas adanya.
Lingkup sosiologi hukum dalam socio legal studies dan juga sociology of law yang keduanya bagian dari pengkajian hukum. Dari segi sosiologi law in action-nya dan juga di dalam social contex. Sosiologi hukum mempengaruhi di dalam kajian hukum, penerapan hukum dan bahkan sampai pada tatanan pembentukan hukum. Jadi erat kaitannya pengaruh sosial dengan hukum. Seperti teori sibernetika Talcot Parson, bahwa hukum itu tidak otonom dan merupakan bagian dari system. Hukum itu berada pada sub sistem dan dipengaruhi oleh arus energy dan arus informasi dari sub system lain. Sub sistem budaya, politik dan ekonomi memberikan pengaruh terhadap hukum.
Dengan sosiologi hukum berjalannya penegakan hukum di Indonesia bisa kembali kepada tujuan dari hukum itu sendiri. Hukum yang bertujuan untuk kehidupan masyarakat Indonesia sebagai mewujudkan tujuan Negara yang tercantum di dalam pembukaan undang-undang dasar republik Indonesia tahun 1945. Hukum yang lebih menekankan kepada nilai-nilai asli dari masyarakat Indonesia yang pancasilais.




[1] Prof Esmi Warasih pranata hukum sebuah kajian sosiologis, suryandaru utama, semarang, 2005 hal 3

1 komentar:

The Power Of DreamS said...

Kakak angkatan .. πŸ‘πŸΏπŸ‘πŸΏπŸ‘πŸΏ