Artikel Menarik
Loading...
Monday, March 19, 2012


       Demam blog melanda (Smg, 19 Maret 2012), ketika diwajibkan atas kalian semua untuk mempunyai blog, maka disitulah letak awal kalian minat terhadap menulis. Kata-kata ini yang seakan mematikku untuk menengok kembali blog-blogku yang sempat hibernasi (ya karena sudah sangat panjangnya tertidur). Kewajiban yang diberikan terhadap seseorang dengan ancaman atau paksaan akan berakibat dikerjakannya suatu perintah itu lebih daripada tidak diwajibkan.
       Ya sudah barang tentu, teman-teman sejawat dan seangkatan di program Fast Track 2012 seakan-akan menjadi sudi untuk menyambangi yang namanya dunia nge-Blog. Karena kewajiban untuk membuat blog dan mempost kan tulisan-tulisan hasil pembelajaran dan kegiatan selama mendapatkan beasiswa.
Positif memang
       Hal ini menjadikan mahasiswa mau tidak mau segera bergegas membuat blog meskipun hanya sekedar punya akun dan belum terisi. Blog ini bisa memacu untuk menulis, entah itu tulisan apapun saya rasa. Seperti yang saya rasakan sendiri, hasrat nulis memang sudah ada, namun ya belum mampu untuk menuliskan secara runtut bak bahasan berita dalam kompas yang saban hari saya nikmati di balkon bersama dengan segelas kopi (itu dulu, sekarang teh saja). Atau juga tidak seilmiah jurnal-jurnal yang diterbitkan secara virtual maupun cetak. Namun tak apalah, saya coba dulu untuk menulis, apapun itu bentuknya.
      Seorang kawan yang doyan menulis saban hari dan mungkin sudah sebagai begawan blog (saya sebutkan juga dalam blogroll saya : baca sastra kelabu) pernah berkata tentang semangat dan jiwa menulis kepada saya. Sudah saya lakukan memang, namun tidaklah mudah untuk selalu intens menuangkan kata-kata nan indah dan bermuatan sastra, ilmiah, maupun bermuatan pasir (oh bukan muatan pasir) bermuatan ilmu maksudnya, namun hal itu terus saya lakukan.
Ketakutan atau ketidak-PD an
       Entah takut atau semacam apalah, sehingga tulisan-tulisan saya yang telah lampau saya kumpulkan di dalam folder di hardisk netbook saya hanya mandek dan berdiam di dalam situ saja. Tidak ada niatan untuk mempostkan karena dinilai tulisan syarat ungkapan pribadi. belakangan  saya dibisiki oleh seorang kawan saya perihal tulis-menulis. Tak usah kau ragu kawan untuk menuliskan hal sepele di dalam blogmu, memang mungkin bagimu sekarang tidak ada arti. Tetapi nanti kawan, rupanya tulisanmu bisa membuatmu heran dan seakan kau lupa kalau itu tulisan kau. Ambil netbook dan mulai masukkan kata-kata yang sedang bercongkol diotak kamu, tulis apapun itu. setidaknya jika tidak bisa memberi manfaat sekarang di kelak kemudian hari kau masih bisa terbahak dengan tulisan kau sendiri (bermanfaat bukan).
Menulis serius
       Perlukah menulis serius ataukah serius menulis. Menulis serius itu bagi saya berarti menulis hal-hal yang bermuatan serius, sedangkan serius menulis itu keseriusan untuk menekuni menulis. Dari kedua kata ini dipilihlah serius menulis untuk menjadi tulisan-tulisan yang serius dan benar-benar serius memberikan makna buat orang lain. Sedikit menulis memberi manfaat kepada orang lain sedikit, berarti banyak menulis memberi manfaat lebih banyak. Itu yang mungkin bisa membantu meningkatkan hasrat untuk menulis apapun itu.
Alternatif
       Menulis di buku diary seperti kebanyakan dilakukan oleh kaum hawa, itu apa gunanya kalau dipikir-pikir. Tetapi ternyata menulis diary bisa menjadikan kelapangan hati dengan masalah-masalah yang dihadapi, dan itu bisa menjadi buku pengingat (book of remember). Sebagai laki-laki tidak banyak yang menulis diary, namun dengan blog bisa jadi menulis semacam diary, yaitu menuliskan logbook. Dari adanya wadah inilah bisa jadi alternatif wadah menuliskan hal yang dilakukan setiap hari dan menjadi pengingat untuk kedepan nantinya. Seperti telah diungkapkan kebanyakan orang bahwa masa lalu bisa menjadi pelajaran yang berharga. Dan juga dari tulisan-tulisan yang ada di blog akan mengajari pengetahuan pengalaman untuk dilakukan dan tidak dilakukan oleh orang lain.

Cukup cakap dari saya
Ini juga yang nantinya akan saya ingat sebagai motivasi untuk saya menulis. Toh saya mengatakan tidak bisa tidak bisa menulis, lha ini saja sudah ada 2 halaman tulisan.
Terimakasih
Ttd Lilik Haryadi

0 komentar: