Artikel Menarik
Loading...
Saturday, August 14, 2010

Info Post
Bapak
Pak kau ini kenapa tak tersenyum...apakah aku salah, apakah aku belum bisa menjadi anak yang nurut padamu.
Kau tidak salah nak,aku hanya memikirkan kau terus menerus hingga rasa rindu ini selalu hadir ketika semenit setelah kamu pergi. Aku akan tersenyum nak jika kau juga tersenyum. Kamu bertanya aku kenapa tidak tersenyum tapi kamu sendiri tidak tersenyum. Bagaimana akau bisa tersenyum jika kau sedih.
Pulang kok sedih kenapa?
Aku gak sedih pak, aku terlalu seneng ketemu bapak, aku terlalu rindu dengan kamu pak.
Lha trus kenapa kamu sedih? Harusnya ketemu kan seneng.
Aku seneng ketemu bapak, tapi aku juga sedih kalau ketemu bapak, ketika terlintas di fikiranku ini apa yang telah aku buat selama ini, apa yang sudah aku berikan belum seimbang dengan apa yang aku minta.
Aku sedih melihat wajah bapak yang tampak lelah bekerja setiap hari, setiap pagi buta ketika ayam aja belum bangun dan masih benerin selimut, bapak sudah pergi bekerja. Itu buat siapa, ya hanya buat keluarga yang bapak sayangi.
Aku sekolah sudah bertahun tahun bapak, aku gak akan menunggu sampai aku lulus nanti untuk mengucapkan kebanggaanku mempunyai bapak seperti anda. Aku tidak perlu sampai sukses untuk berucap terimakasih karena bapak juga tidak menunggu sampai aku jatuh, tetapi sebelum aku jatuh bapak sudah menolongku.
Hem, senyum yang bapak tampilkan saat itu.
Maafkan aku nak, aku lupa tersenyum dihadapanmu. Senyum dan sedihku sama saja nak, aku selalu senang dengan keluarga ini. Dalam sedihkupun aku senang untuk berbuat hanya untuk keluarga.
Ingat, betapa berat yang kamu bayangkan tentang bapak itu bagi bapak tidak seberat perjuanganmu membahagiakan bapak.
Apa yang engkau katakan pak, selama ini aku belum berbuat apa apa, sekecilpun tidak. Aku selalu protes kalau bapak marah, aku protes kalau bapak ngasih tau, aku selalu protes jika uang saku kurang, aku selalu protes jika bapak salah, tapi bapak menganggapku benar,dalam keadaan usahaku gagal bapak bilang itu bukan salah, tapi takdir, itu jalan hidup yang meski kau jalani.
Bagi bapak, bukan hasil saja yang aku hargai, tetapi proses yang kamu lakukan nak.

Ya Allah, apa yang selama ini aku tampilkan dihadapan bapak...justru itu menambah beban bapak.
Bapak, meskipun kau terkadang marah tetapi aku akan terima itu, karena tak terlalu kusadari selama ini itu sebagai petuahmu yang berharga...
Newer Post
Previous
This is the last post.

2 komentar:

Anonymous said...

Tak terasa mata ini berkaca2 trus meneteskan air mata,itu pun belum sampai selesai ku membacanya,......selamat berjuang kawan,jangan sampai berhenti,tuk melihat secercah sinar matahari bsk pagi

Lilik Haryadi said...

Terimakasih comennya...Semoga memberi sedikit motivasi